Showing posts with label band. Show all posts
Showing posts with label band. Show all posts

Metallica

band yang muncul di scene underground awal 1980an yang berkembang menjadi band rock mainstream raksasa. Dengan penjualan album yang mencapai 57 juta unit didalam AS dan 35 juta unit diluar AS, mereka menempati posisi ke 18 sebagai salah satu artis penjual album terbesar yang terdaftar dalam Recording Industry Association of America.
Metallica dibentuk di California tahun 1981 oleh drummer Lars Ulrich dan gitaris/vokalis James Hetfield. bassist Ron McGovny kemudian bergabung dan Dave Mustaine. McGovney pergi setelah berkonflik dengan Mustaine dan posisinya diganti Cliff Burton. Sifat Mustaine yang agresif dan sering bermasalah dengan obat dan alkohol mengakibatkan dia dipecat oleh Ulrich dan Hetfield. Posisinya diisi Kirk Hammet, seorang murid Joe Satriani. Mustaine kemudian membentuk Megadeth.
dan band yang mendapatkan namanya sewaktu Ulrich diajak promoter metal San Francisco, Ron Quintana, untuk bantu memilih nama dari daftarnya untuk dijadikan nama majalah barunya. Daftarnya terdapat nama Metallica. Ulrich menyarankan Metal Mania untuk mejalah Quintana dan memilih Metallica untuk band yang baru dia bentuk.
Bersama Megadeth, Slayer dan Anthrax, Metallica merupakan salah satu dari empat tokoh thrash metal pada era 1980an. Album pertama Kill ‘Em All dirilis 1983 via Megaforce. Album pertama ini menjadi contoh sound dasar Metallica untuk era 1980an dengan khas vokal dan irama berat dari Hetfield.
Tahun 1984 mereka menndatangani kontrak dengan Elektra Records dan merilis Master of Puppets, album yang dianggap fans sebagai album terbaik Metallica.
Sewaktu tur di Eropa pada tahun 1986, bassist Cliff Burton meninggal dunia di Swedia dalam kecelakaan bis dan posisinya diganti Jason Newsted. Tahun 1988, Mereka membuat …And Justice for All dengan musik yang komplek secara struktural. …And Justice for all dinominasi Grammy dengan kategori Best Hard Rock/Metal Performance Vocal or Instrument namun Grammy tersebut diraih Jethro Tull. Tahun berikutnya mereka baru memenangkan Grammy dan setelah itu menerjun ke dunia musik rock mainstream. Video “One” diputar terus menerus oleh MTV.
Album berjudul Metallica yang sering disebut The Black Album dirilis 1991 dengan mentargetkan audiens yang jauh lebih luas. Album mencapai no. 1 dalam Billboard dan bersertifikasi platinum dalam beberapa minggu. Album ini menjadi album paling populer Metallica dan hit-nya “Enter Sandman” menjadi lagu Metallica yang paling dikenal luas.
Kemudian pada Load (1996) dan ReLoad (1997), tempo metal yang cepat diganti dengan nada gitar yang bluesy, permainan slide guitar dan steel guitar, hurdy-gurdy dan violin. Sebagian fans menyindir mereka sebagai Poptalica, Alternica dan bahkan Lica saja. Beberapa lagu dari Load dan Reload sering diputar radio-radio AS.
Untuk album berikutnya, mereka men-cover lagu-lagu dari sejumlah artis yang mempengaruhi mereka, mulai dari The Misfits, Thin Lizzy, Black Sabbath sampai ke Nick Cave dan Bob Seger.
Tahun 1999, Metallica dilantik ke San Francisco Walk of Fame dan pada bulan berikutnya, mereka merekam dua pertunjukan dengan San Francisco Symphony Orchestra dan merilisnya dengan judul S&M.
Metallica menciptakan kontroversi dengan menuntut Napster yang 300.000 anggotanya memperjual-belikan seluruh katalog lagu Metallica didalam situs. Mereka juga menuntut beberapa universitas yang mengizinkan Napster dioperasikan dalam kampus. Penuntutan ini mengakibatkan ejekan sejumlah situs yang mengatakan band yang mengawali karirnya dari scene underground yang sering memperjual-belikan rekaman bootleg live sudah menjadi mata duitan. Metallica menjawab apa yang mereka permasalahkan adalah perdagangan ilegal materi studio mereka, bukan bootleg live.

Jason Newsted meninggalkan Metallica pada 2001. Berbagai wawancara mengungkapkan pengunduran dia diakibatkan keinginannya untuk membuat CD dan melakukan tur bersama band pribadinya, Echobrain, namun keinginan tersebut selalu dihadang oleh Hetfield. Posisinya diganti Robert Trujillo, eks bassist Suicidal Tendencies yang juga pernah main bersama band Ozzy Osbourne, Infectious Grooves dan Black Label Society. Newsted kemudian bergabung ke band legendaris thrash metal Kanada, Voivod, dan secara menarik menggantikan posisi Trujillo dalam Ozzfest 2003.
Album kedelapan mereka, St. Anger (2003), menanjak ke posisi no. 1 dalam chart. Album dibuat kasar dan tak terpoles untuk merespon ke pihak yang klaim Metallica telah kehilangan kekerasan sound mereka. Namun, sound kasar yang tanpa banyak gitar solo ini dikritik fans yang tidak menyukainya. Toko CD bekas dibanjiri CD yang dijual oleh fans yang kecewa. Meskipun dikritik, St. Anger memenangkan Grammy 2004.
Tahun 2006, Metallica mengakhiri kerjasama 15 tahun dengan produser Bob Rock dan menjalinkan kerjasama baru dengan produser legendaris Rick Rubin, yang biasa menangani album Beastie Boys, Red Hot Chili Peppers, Weezer, Audioslave, Slipknot, System of a Down, Johnny Cash, LL Cool J, Jay-Z dan Slayer. Rubin dan Metallica sedang mengerjakan sebuah album studio baru yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Pas

Pas adalah grup yang memelopori gerakan indie label pertama di Indonesia, sebuah sistem pendistribusian kaset yang kini sudah menjadi bagian dari dinamika industri musik. Keteguhan mereka dalam mengibarkan idealisme telah menjadi inspirasi bagi sejumlah besar grup yang setia pada orisinalitas, tapi sulit mendapat peluang. Mereka memilih jadi musisi underdog daripada harus mengubah cita rasa musikalnya sekadar untuk mengikuti selera pasar.

Karena itu, untuk debut albumnya, Four Through The Sap, Pas memilih mengedarkan sendiri melalui jalur teman, studio-studio latihan mau pun lokasi tempat mereka melangsungkan pertunjukan. Wilayah distribusinya pun masih sebatas Bandung dan Jakarta. Namun berkat kegigihan tersebut, satu celah terbuka sudah. Tiras penjualanya yang mencapai 5000 copies akhirnya mengantarkan mereka pada kontrak dengan PT Aquarius Musikindo, salah satu major label terkemuka di Indonesia.

Berdiri di Bandung pada pertengahan tahun 1992, keunikan grup ini sudah terlihat dari cara mereka menggabungkan musik rock dengan lirik yang bernuansa sastra. Sebagian besar lirik memang ditulis Yukie, sarjana Sastra Jepang yang mantan dosen D3 Sastra Universitas Pajajaran Bandung (UNPAD). serta Trisno, lulusan Sastra Jerman dari universitas yang sama.

Di kalangan insan musik, Pas juga dikenal sebagai musisi yang memiliki skill tinggi dalam memainkan instrumen. Penampilan enerjik mereka di atas panggung telah mengundang decak kagum Dave Ghrol, pentolan grup Foo Fighter dari Amerika, saat mereka tampil sepanggung dalam Jakarta Pop Alternative Festival yang digelar di Parkir Timur Senayan, Jakarta, April 1994. Saat itu mereka mendapat kehormatan untuk mendampingi Foo Fighters, Beastie Boys dan Sonic Youth.

Pada Agustus 2000 Pas kembali berhasil mencuri perhatian ketika ambil bagian di Busan International Rock Festival (BIROF) yang berlangsung di Seoul, Korea Selatan, di hadapan sekitar 100.000-an penonton. Peserta lainnya ketika itu antara lain Dimmu Borgir dan Night Wish.

Pada 2001, Pas membuat kejutan dengan menggandeng penyanyi cewek sebagai guest vocal dalam Kesepian Kita, sebuah nomor balada dari album Ketika ….Album ini sempat mengundang kontroversi karena dianggap telah melenceng dari konsep musik mereka selama ini sebagai grup band yang agresif di atas panggung. Toh, langkah ini tidak menyurutkan jumlah penggemar mereka. Bahkan sebaliknya, semakin bertambah dengan muncul penggemar perempuan yang sebelumnya merupakan “mahluk asing” dalam setiap pertunjukan Pas.

Kejutan demi kejutan seperti tak pernah sepi setiap Pas meluncurkan album baru. Pada 2.0, misalnya, Pas mengaransemen ulang Yesterday milik The Beatles yang mashur itu menjadi lagu bercorak punk dan sekaligus menjadikan video clip-nya sebagai salah satu video clip yang paling sering diputar oleh MTV.

Kemudian setelah merekrut penyanyi cewek belia Tere dan merombak total Yesterday, kini Pas berkolaborasi dengan Reza, seorang diva R & B, lewat lagu Getir di albumnya yang ke-7, Stairway To Seventh. “Saya tertarik menerima tawaran dari Pas karena musik yang mereka bawakan selama ini sangat bertolak belakang dengan musik saya,” alasan Reza. “Ini sebuah tantangan.” Alasan yang kurang lebih sama meluncur dari Christopher Abimanyu, penyanyi tenor kenamaan negeri ini, saat diundang sebagai tamu dalam lagu Bayangan.

Berubah-ubah bentuk akhirnya menjadi bentuk dari konsep musik Pas itu sendiri. Namun semua itu tetap mengalir dalam benang merah idealisme. Dan perjalanan sang waktu telah menjadikan Pas sebagai ikon musik underground di Indonesia, meski perjalanan kreatif mereka telah keluar jauh dari bingkai komunitas tersebut.

pas-band.com

Boomerang

Pada awal tahun 90’an, mereka adalah musisi muda yang ingin membentuk sebuah kelompok musik yang punya keinginan besar menyalurkan hasrat untuk bermain musik dan mengekspresikan idealisme, rasa kegelisahan, kesedihan, kegembiraan, cinta, kemarahan dan menyuarakan melalui nada nada musik...

Perjalanan mereka untuk meraih harapan keberhasilan di musik mulai terbuka setelah mengikuti Festival Rock Se Indonesia ke 7 versi Log Zhelebour di Yogyakarta, berkat aksi panggung yang menarik dan lagu single ciptaan mereka yang berjudul No More yang energik akhirnya mereka yang masih bernama Lost Angels masuk sebagai 10 Finalis dan berhak ambil bagian di rekaman kompilasinya. Mereka sadar bahwa masa depan sepenuhnya tergantung pada hasil karya lagu ciptaan sendiri dan kekompakan. bahwa karir dan keberhasilan itu butuh perjuangan dan usaha keras, mereka harus rela berulang kali menemui Log Zhelebour hanya untuk bisa diterima menjadi salah satu artisnya. Sampai mereka harus rela membawa tape sendiri dari rumah supaya lagu lagu karya mereka bisa diperdengarkan sama Log Zhelebour. Berkat keuletan dan kegigihan itu akhirnya membuat Log tergugah untuk mendengarkan dan memberi masukan lagu bagaimana yang layak jadi andalan dalam sebuah album rekaman. Maka lahirlah album perdana yang mengandalkan single hit berjudul “ Kasih “ dan nama group Lost Angels pun berubah menjadi Boomerang pada tanggal 8 Mei 1994 dengan hanya 3 personil yang terdiri dari Roy Jeconiah - Vokal, John Paul Ivan - Gitar, Hubert Henry Limahelu – Bass karena pemain drum mereka Pet Agusty mengundurkan diri bertepatan dengan dirilisnya album perdananya.

Memasuki album ke 2 K.O ( Kontaminasi Otak ) yang mengandalkan 2 Hits “ Oya dan Bawalah Aku “, Log mulai membawa Boomerang masuk Jakarta dengan menggelar Promo Tour Cafe & Diskotik di 15 tempat dan ini juga merupakan terobosan pertama bagi group musik melakukan promotour di café & diskotik pada tahun 1995. Album berikutnya Log Zhelebour mendongkrak popularitas Boomerang secara Image dengan melakukan terobosan publisitas hebat yang tidak pernah dilakukan produser rekaman lain. Album ke 3 “ Disharmoni “ dengan lagu Generasiku merupakan video klip terkeren yang pernah digarap Oleg Sanchabaktiar yang dipublikasikan lewat sponsorship pertarungan akbar tinju kelas berat Mike Tyson menjadi awal kesuksesan brand image Boomerang yang harus dibayar mahal karena tidak diimbangi dengan penjualan yang cukup mengcover biaya promosinya tapi nama besar sudah diraih. Tidak selang 1-2 bulan dirilislah Single Hit “ Kehadiranmu “ yang dikompilasikan dengan band2 besar lainnya dalam Title Album Kompilasi “ 12 Bintang Showbiz “ yang cukup sukses juga. Log pun harus mengikuti kemajuan teknologi Mastering atau Finishing yang merupakan hasil akhir sebuah rekaman agar mendapatkan kualitas rekaman yang bagus dan bernyawa. maka 3 Album dan single Kehadiranmu dibawa Log pergi ke Studio 301 Sydney – Australia untuk di Mastering Ulang. Dengan kualitas rekaman yang jauh lebih bagus Log pun merilis album Boomerang Hits Maker ( 1997 ) dan meraih sukses dengan mengandalkan 3 lagu Ballad dari album sebelumnya yang terdiri dari Bawalah Aku, Kasih, Kehadiranmu yang terjual 150.000 kopi lebih.
Tahun 1998 lewat album “ Segitiga “ yang dirilis pada pertengahan tahun 1998 berdekatan pada saat kerusuhan Mei 1998 penjualan albumnya meningkat drastis dan terjual 200.000 kopi, cukup luar biasa untuk ukuran band rock, dengan mengandalkan lagu Neraka Jahanam, Kereta Laju, Kisah Seorang Pramuria, Berita Cuaca, menambah kejayaan Boomerang sebagai group rock yang disegani pada jaman itu, Log dengan keberanian luar biasa melakukan Promosi Spot TV lagu Boomerang pada program pertandingan sepakbola dunia ( World Cup ) dan pertandingan Mike Tyson vs Holyfield. Gebrakan Log pun menggoyang pola promosi bisnis industri rekaman pada jaman itu dan dianggap tidak masuk akal oleh produser lain.

Tahun 1999, sukses album Segitiga dilanjutkan oleh Log dengan merangkum 4 album sebelumnnya dan single Kehadiranmu setelah di mastering di 301 Studios Sydney untuk dikemas menjadi 2 album terbaik ( The Best ) yang dirilis oleh Logiss Records yaitu Best Ballads of Boomerang dengan mengandalkan lagu “ Kisah “ yang diambil dari Album KO terjual 500.000 kopi lebih dan Hard N Heavy yang mengandalkan single lagu Larantuka dari SAS dan terjual hampir 100.000 ribu kopi. Dengan modal sukses itu Log pun mulai menyiapkan Konser Tour besar2an bersama Jamrud yang juga sukses besar dengan album Terima kasih untuk mendampingi Boomerang pada Th 1999 - 2000.

Puncak karir Boomerang terletak pada Album “ X’travaganza “ yang dirilis tahun 2000 dengan membuat 8 video klip dan 7 video klip langsung ditayangkan serentak diseluruh stasiun TV sebelum Album dirilis. Ini sensasi sejarah dahsyat publisitas di industri rekaman yang belum pernah dilakukan oleh produser lain sampai saat ini. Penjualan albumnya pun langsung meledak dan terjual 600.000 kopi, ini prestasi luar biasa bagi sebuah group musik rock semacam Boomerang….publik terkagum kagum.

Boomerang pun sudah menjadi salah satu ikon group musik rock yang sukses di tengah industri musik Pop, Boomerang memang punya kelebihan dengan performance menarik dipertunjukannya ditambah modal banyak lagu Hits di album Best Ballads dan album Xtravaganza. Mereka punya Fans atau Penggemar luar biasa yang menamakan dirinya sebagai Boomers,

Sayang, kesuksesan album ini juga menjadi tanda perpisahan Boomerang dengan Log Zhelebour, Tahun 2002 merekapun hijrah ke perusahaan lain dan merilis 2 album Terapi Visi dan Urbancoustic ( 2004 ). Cuma Sayang promosi dan penjualan album ini tidak bergema sehebat waktu bersama Log Zhelebour. Sehingga banyak penggemar atau Boomers tidak hafal atau tahu keberadaan album tersebut.

Tahun 2007, Album ke 8 Boomerang sudah selesai dan sempat dipublikasikan pada waktu Rock Competiion 2007 tapi tidak kunjung dirilis oleh pihak Label, sehingga membuat Boomerang harus Silahturahmi kembali kepada Log Zhelebour pada saat abis lebaran tahun 2008 agar bisa diterima kembali bernaung dibawah bendera Log.

Log Zhelebour pun tidak merasa keberatan dengan permintaan itu dengan catatan memiliki kewenangan untuk merubah atau mixing ulang album baru ini dan memiliki wewenang untuk menentukan masa depan Boomerang bukan hanya dari rekaman tapi juga mengelola management Boomerang di Showbiz.

Boomerang dengan formasi baru dengan masuknya Andry Franzzy menggantikan John Paul Ivan sebagai gitaris tampak semakin menunjukan kualitas eksplorasi kemampuan musikalitas mereka didalam Album yang diberi title SUARA JALANAN (2009) yang dirilis bertepatan dengan HUT ke 50 Log Zhelebour tanggal 16 maret 2009.
Boomerang sudah menunjukan eksistensi & konsistensi mereka sebagai salah satu Ikon Musik Rock di tanah air yang sudah bertahan selama 15 tahun.

Discography :

BOOMERANG - 1994
Hit lagu : Kasih

KONTAMINASI OTAK, LOGAT, 1995
Hit Lagu : O-Ya, Bawalah Aku, Kisah

DISHARMONI, LOGAT REC, 1996
Hit Lagu : Generasiku

12 BINTANG SHOWBIZ , LOGAT REC, 1997
Single Hit : Kehadiranmu

BOOMERANG HITS MAKER, LOGISS REC, 1997
Hits Lagu : Kehadiranmu, Kasih, Bawalah Aku

SEGITIGA, LOGAT REC, 1998
Hit Lagu : Neraka Jahanam, Kereta Laju, Berita Cuaca

BEST BALLAD, LOGISS REC, 1999
Hit Lagu : Kisah ( LP )

HARD N’HEAVY, LOGISS REC, 1999
Hit Lagu : Larantuka ( LP )

X’TRAVAGANZA, LOGISS REC, 2000
Hit Lagu : Tragedi, Pelangi, Kembali, Bungaku, Milikmu,
Gadis Extravaganza, Psycho Manimalium

THE GREATEST HITS OF BOOMERANG, LOGISS REC, 2002

TERAPI VISI, 2003 ( SONY )
Hit Lagu : I Want You, Fajar Pagi

URBANOUSTIC, 2004 ( SONY )
Hit Lagu : Kuingin ( Jelitaku ), Pasti Ada Energi Lagi

SUARA JALANAN, LOGISS REC, 2009
Hit Lagu : Seumur Hidupku, Aurora, Suara Jalanan, Hallo Sahabatku, Massa 33, Pantang Menyerah, Superior Syndrome.

sumber : http://www.logissgroup.com

PADI

PADI was originally one of the campus bands in Airlangga University (Unair), Surabaya. The band consists of Andi Fadly Arifuddin (Fadly, vocalist), Satriyo Yudhi Wahono (Piyu, guitarist), Ari Tri Sosianto (Ari, guitarist), Rindra Risyanto Noor (Rindra, bassist), and Surendro Prasetyo (Yoyok, drummer).

Padi They were called SODA before eventually dubbed as PADI. The band first performed at a gig at Unair’s Faculty of Law, October 1996, and formally known as PADI in April 8, 1997. Yoyok, the drummer, proposed the name PADI, Indonesian for “rice”. It was not only inspired by the philosophy of rice, which bows even further down when ripen, a symbol for modesty. But also by the fact that it is Indonesian staple food that everybody could enjoy. From peasants, little kids, to the executives. Though PADI’s name is often associated with something “boorish”, being the food for the poor, PADI has a very down-to-earth sense. In their perspective, PADI is also the symbol for prosperity

Each member came from various backgrounds. The five of them did not simply meet and instantly form a band. It was first Piyu and Ari who got together. Shortly, Ari invited Rindra to join them as bassist; both Ari and Rindra once band-mate in a band called WARNA. Afterwards, they found the vocalist, Fadly, and drummer, Yoyok. Fadly, who first admired Ari’s guitar playing during his band’s performance at a campus gig, initially offered to play bass for Ari’s band; if they needed one (Fadly had been playing bass since he was in senior high school).

There is no doubt for PADI’s individual skill. Piyu, formerly a member of a rock band Crystal Band, was a guitar technician for a well know Indonesian band. Piyu had been taken with guitar playing since senior high school, and his talent in songwriting is irrefutable. Scores of PADI’s hit singles came from his hands. As a bass player, Rindra’s talent is also beyond doubt, as he won Best Bassist in 1992. And as for Yoyok, everybody knows the former Andromeda’s drummer was dubbed 1998 Indonesia’s Best Drummer.

The journey they had to take before being a solid, established band as today was not an easy one. They started from scratch, with all the ups-and-downs of struggling for existence, being rejected numerous times by major labels. Faced with so much rejection did not make them lose their hope, however. It encouraged them even more to make more demos and traveled all the way from Surabaya to Jakarta, delivering them themselves. Having to sleep on railway carriages' connecting area as all tickets were sold out, having to bear with stale rice because when they bought some food on the train they got food with a stale rice, because they are so starving finally they have to eat the food that didn't contain the stale rice. Those were some experiences not unfamiliar to them at the time.

There was an occasion where Piyu said, "A band player should know what a hard life is like before being famous. Enduring such hard life could prepare us to have a sense of survival, and, eventually, would be able to keep our existence our own world".

The S.I.G.I.T

Band yang mengusung garage rock dengan tampilan seadanya yang dibentuk ketika zaman sekolah setingkat SMP antar teman saling bertemu diantaranya yaitu Rekti, Adit dan Acil yang kemudian membentuk sebuah band yang mengusung ciri khas dengan sound dari mulai The Stone Roses sampai dengan Led Zeppelin, dimana personil band yang selama itu ada saling silih berganti, ada yang datang ada yang pergi, dengan, kemudian pada tahun 2002, Farri datang ke dalam band tersebut, dengan kemampuannya dalam “recording dan arranging” dimulailah mereka untuk menciptakan lagunya mereka.
Band tersebut yang dikenal sebagai THE. S.I.G.I.T (The Super Insurgent Group Of Interperence Talent), yang pernah tampil dalam salah satu acara di stasiun televise swasta nasional ini kemudian mereuskan kiprahnya dalam membuat mini album dengan recording SPILLS Record, yang diberi judul “SELF TITTLED”, dengan single pertamanya yang berjudul “SOUL SISTER”, menjadi
hits di radio-radio kota Bandung dan Jakarta yang kemudian dianugerahi sebagai “The Hottest Rock N Roll Band” oleh majalah MTV TRAX, Selain itu juga dengan masuk sebagai salah satu OST. Catatan Akhir Sekolah dengan melalui single “Did I Ask Your Opinion?” menjadi saalh satu jalan untuk menjadi single pertama yang di-“broadcast” oleh MTV Indonesia. Tidak lama kemudian mereka meninggalkan SPILLS Record untuk kembali pada “roots” semula dengan membuat demo sendiri dan “low budget” serta “DIY Ethics” yang tetap menjadi suatu ideal bagi mereka.
Sekitar tahun 2005, menjadi tahun yang begitu berat dikarenakan dengan ”budget” yang dimiliki belum memenuhi untuk melakukan “recording” walaupun dibantu oleh para “gigs” yang menjadi pasukan mereka atau biasa disebut insurgent army, akhirnya mereka membuat beberapa material lagu yang memiliki muatan yang kuat.
Keseriusan mereka akhirnya terjawab sekitaran tahun 2006 dengan adanya tawaran “recording dari label local yang bersifat independent yaitu FFWD Records yang memiliki konsentrasi dalam merilis album yang bermuatan pop act seperti mocca, club 8, akhirnya mereka membuat album dibawah label FFCUTS Records yang merupakan naungan dari FFWD Records, sebuah divisi yang berkonsentrasi pada musik ROCK. Kemudian album mereka “launch” apda tanggal 26 Desember 2006 dengan hasil “sold out”. Kemudian kabar terakhir yang diketahui mengenai perkembangan mereka sekitaran April 2007, empat track “EP” tealah dirilis di Australia diatas bendera CAVEMAN!Records & Reverberation Dist. Dimana “EP” ini merupakan salah satu pembuka bagi THE.S.I.G.I.T. terhadap para pencinta ROCK di Australia sebelum merilis FULL LENGTH ALBUM dibulan Juni 2007, Dimana salah satu singlenya dengan tittled “BLACK AMPLIFIER” mendapat sorotan media dari Australia dan U.K serta beberapa band internasional seperti Dirty Pretty Things, Soledad Brothers & Mando Diao serta Jet memperhatikan THE. S.I.G.I.T. memiliki nilai potensial untuk menjadi band yang lebih go internasional dari kawasan asia.


THE SIGIT (EP) – SPILLS ECORD – 2004,
VIDEO READY O – DVD compilation kids of riots substreo – 2005,
OST. Catatan Akhir Sekolah – FFWD Records – 2005,
VISIBLE IDEA OF PERFECTION - FFWD Records – 2006,
BLACK AMPLIFIER - CAVEMAN!Records & Reverberation Dist.- 2007,
VISIBLE IDEA OF PERFECTION - CAVEMAN!Records & Reverberation Dist.- 2007.

Judas Priest

Judas Priest is the surviving elder prophet of the metal tribes. This English quintet didn't invent a single move, mind you, but its mid-'70s sound codified the previous five years or so of metallic developments, minus any significant blues content. The rigid, intense music was a key influence on the accelerating speed-metal hordes of the 1980s. Since then, Judas Priest has refined its attack with a near-religious zeal. Lead singer Rob Halford can match the range and sharp impact of Robert Plant, but his shrieks and moans aren't nearly as deep. No matter: Glenn Tipton and K. K. Downing trade solos in a dueling-guitar approach, and their best tandem riffs give the Priest a hooky, driving momentum that's usually absent in metal's doomy end. And make no mistake, these guys are doom-oriented; Judas Priest pumped out apocalyptic epics like "Island of Domination" (from the RCA best-of collection) and "Dissident Aggressor" (from Sin After Sin) when Metallica and its followers were still in junior high, and both albums contain the group's mincing desecration of Joan Baez's "Diamonds and Rust" (in case anybody thought this music genre lacks a sense of humor).

With its exaggerated leather-'n'-studs theatrical bent and polished musical consistency, Judas Priest encapsulates the metal experience for true believers. There were bigger, better bands pushing hard rock in more interesting directions (AC/DC, Zeppelin, Van Halen, etc.) but by the time Hell Bent for Leather was released, Judas Priest could be counted on to fully represent the standard metal sound of the moment. No surprises ever. Every Columbia album sports at least one tuneful, surefire drive-time rocker, though. British Steel kicked off the '80s with the fierce "Breaking the Law" and the rollicking, Kiss-like pop of "Living After Midnight," while the coming wave of hair metal found a blueprint in "United," a ready-made anthem for Bon Jovi. Screaming for Vengeance maxes out with "Freewheel Burning" (catchy, whatever the hell it means) and the campy send-ups that raised Tipper Gore's foolish ire: "Eat Me Alive" and "Love Bites."

By 1985, the Birmingham rockers had fully implemented the speed-metal tempo they inspired. Priest backed off just a touch on Turbo, adding guitar synthesizers, but the high-speed Painkiller defied the power-ballad imperative that ultimately killed off the '80s pop-metal scene. And who better than Judas Priest? In the early '90s, Halford quit the band for a more experimental solo career that touched on grunge and industrial rock. Judas Priest was in limbo until Tipton and Downing took the bizarre step, in 1996, of recruiting Halford's replacement from a Priest tribute band in Akron (a story crazy enough to inspire the 2001 Mark Wahlberg movie Rock Star). Tim "Ripper" Owens had all the right moves and a voice that could pierce eardrums, but on Jugulator, he still sounded like a man who sang for a cover band. Demolition was much stronger. Priest stretched out with electronic effects at the margins; on the stormy "Hell Is Home," Owens sounded increasingly like Metallica's James Hetfield. But if Owens had any lyrics in him, songwriters Tipton and Downing don't leave him much room. And the dream was soon over anyway because Halford was back as frontman in 2003. The entire Columbia catalogue was reissued in 2001, with bonus studio and live tracks, and the box set Metalogy gathered 65 songs and a live DVD, making a powerful case for Priest's influence and longevity for new generations of needy heshers, but the small number of previously unreleased songs included here are unessential and beside the point. As long as there's heavy metal, Judas Priest will continue to administer the rites of passage to an eager audience.

From 2004's The New Rolling Stone Album Guide



Bluekuthuq

Group musik yang didirikan pada tahun 1991 ini pada awalnya hanya merupakan band sekolah.Band ini dibentuk sekedar untuk menyalurkan hobi saja tanpa ada maksud tertentu,hal ini dikarenakan keterbatasan skill para personilnya.Pada awalnya mereka mengisi acara di lingkup sekolahan dimana pada awalnya mereka memainkan musik jenis thrash metal/pokoknya metal.
Nama Bluekuthuq dipakai karena spontanitas belaka tanpa ada makna luas yang berakibat perpecahan umat.mereka pakai nama itu karena terdengar lucu dan kocak,sampai sekarang pun nama tidak memiliki arti khusus buat para personilnya.
Baru pada tahun 1993 selepas lulus SMA Bluekuthuq mulai masuk acara di kampus dengan langsung memainkan musik mereka sendiri.Pilihan mereka memainkan lagu sendiri dikarenakan keterbatasan skill.Pinginnya mereka memainkan lagu mirip dream theater tapi apa daya tangan tak sampai buru buru beli alat, buat ongkos sewa studio aja ngamen dulu.
Seiring dengan waktu pada tahun 1995 Bluekuthuq membuat album sendiri yang berisikan 11 lagu. Dimana pada saat itu dengan titel Bluekuthuq black cover album sempat beredar 200 keping.Meski terjual relatif sedikit namun album indie ini memberikan efek samping yang luar biasa karena album ini ternyata banyak beredar di luar kota surabaya,Sehingga nama Bluekuthuq mulai dikenal lebih luas diluar kota surabaya dan berkesempatan untuk tampil dibeberapa acara musik diluar kota surabaya khususnya di kampus-kampus.
Pada tahun 1997 Bluekuthuq membuat loncatan baru dengan ikut serta kompilasi metalik klinik I yang diproduksi oleh rotorcorp-musica record.Dimana lagu ngerap berhasil masuk dalam tangga lagu di radio radio swasta di indonesia.
Sudah tidak terhitung lagi pergantian personil dan jumlah album yang dikeluarkan oleh Bluekuthuq sejak berdirinya sampai sekarang.tapi pada tahun 2009 ini Bluekuthuq akan mengeluarkan sejumlah lagu baru dalam satu album

Sex Pistols

Sex Pistols adalah band yang paling radikal dari dekade 1970an. Mereka merupakan ikon punk yang dikenal luas. Citra, musik dan lirik mereka yang vulgar namun penuh dengan humor meninggalkan kesan yang dalam ke masyarakat melalui karir yang singkat.

Vokalis Steve Jones, drummer Paul Cook dan gitaris Wally Nightingle sebelumnya bermain bersama band The Strand. Mereka sering bermain ke toko busana milik Malcolm McLaren yang saat itu bernama Let It Rock. Mengetahui McLaren mempunyai banyak koneksi dalam industri musik, Jones menawarkan dia untuk menangani bandnya namun McLaren tidak tertarik.

The Strand berganti nama dan personil pada tahun 1975. Glen Matlock menggantikan Wally Nightingale dan memegang bass, Steve Jones mengambil alih posisi gitar dan Johnny Rotten yang sering memakai t-shirt "I Hate Pink Floyd" dan sering nongkrong di toko yang sudah berubah nama menjadi SEX Boutique itu diajak beraudisi. Rotten membawakan "Eighteen" dari Alice Cooper dan dinyatakan lulus.

Malcolm McLaren kemudian setuju menangani band dan membuat sederetan nama – Le Bomb, Subterraneans, The Damned, Beyond, Teenage Novel dan QT Jones and his Sex Pistols. Akhirnya QT Jones dihilangkan dan Sex Pistols digunakan. Dibawah pengarahan McLaren, band memainkan musik sederhana berbasis chord seperti The New York Dolls dan The Ramones. McLaren memberikan Steve Jones gitar Les Paul yang pernah dipakai Sylvain Sylvain dari The New York Dolls dan Richard Hell dari Television. Keduanya adalah figur punk kota New York.

Sex Pistols memainkan gig pertama di St. Martin’s School of Art di London pada Nopember 1975 dan melanjutkan pertunjukan-pertunjukan di kampus dan sekolah seni selama 1975 dan 1976. Setelah itu, mereka mulai bermain di klub dan pub seperti 100 Club dan The Nashville. Pada September 1976, mereka tampil dalam konser pertama diluar Inggris dalam acara pembukaan klub De Chalet Du Lac di Paris. Setelah itu, band menjalankan tur pertama Inggris dari September hingga Oktober, termasuk pertunjukan di penjara Chelmsford. Saat itu, Sex Pistols mulai menarik perhatian EMI.

Setelah mengambil bagian dari festival punk pertama di London di 100 Club, Oxford Street, Sex Pistols menandatangani kontrak dengan EMI. Single pertama mereka, "Anarchy in the UK", dirilis 26 Nopember 1976 dan langsung menjadi sebuah simbol kemarahan yang penuh dengan energi. Meskipun ada anggapan band punk "tidak bisa" main, rekaman live Sex Pistols saat itu menunjukan mereka merupakan band live yang mantap.

Setelah selesainya "Anarchy Tour" pada Desember 1976, EMI merasa Sex Pistols terlalu berbahaya untuk menampil di Inggris. Mereka menciptakan beberapa gig di Paradiso di Amsterdam pada Januari 1977 untuk Sex Pistols. Sekembali ke London, band mendapat publisitas negatif dan EMI pun melepaskan mereka. Gig Paradiso merupakan gig terakhir Sex Pistols dengan Glen Matlock. Matlock dipecat bulan Pebruari dengan alasan legendaris punk karena menyukai The Beatles, meskipun dalam wawancara tahun 2002 Steve Jones mengungkapkan alasan sebenarnya adalah Matlock terlalu sering mencuci kaki, sedangkan Matlock sendiri mengatakan pengunduran itu atas kemauan diri sendiri (mungkin karena tidak cocok dengan Johnny Rotten).

Posisi Matlock diisi Sid Vicious, teman Johnny Rotten dari The Flowers of Romance dan seorang penggemar besar Sex Pistols. Meskipun sangat terbatas kemampuan rmusikalnya, Sid Vicous direkruit McLaren karena memiliki penampilan dan "attitude" punk yang kental. Menurut biografi Sex Pistols England's Dreaming yang ditulis Jon Savage, amplifier Vicious selalu dimatikan sewaktu live dan sewaktu rekaman, bagian bass kebanyakan dimainkan Steve Jones atau Glen Matlock, yang kembali menjadi musisi sessi. Sid Vicious pertama kali tampil dengan Sex Pistols pada 3 April 1977 di Screen on the Green, London.

Setelah ditendang EMI, Sex Pistols bergabung ke A&M pada 10 Maret 1977 dengan melakukan upacara penandatanganan diluar Buckingham Palace. Mereka kemudian berpesta ke kantor A&M dan secara vulgar mengotori ruang direksi. Akibat dari itu, A&M mengeluarkan Sex Pistols pada minggu berikutnya. Tanggal 12 Mei, Sex Pistols menandatangani kontrak ketiga dan terakhir dengan Virgin Records, dengan perjanjian pengontrolan artistik total oleh Virgin.

Bulan itu, Sex Pistols merilis single kedua "God Save the Queen", sebuah lagu yang menyerang keluarga monarki. "God Save the Queen" langsung diblokir oleh Radio 1 milik BBC, namun single tersebut meroket ke posisi no. 2 di beberapa chart Inggris, meskipun ada chart yang mengosongkan posisi kedua mereka. Banyak pihak yang percaya dan menunjukan bukti bahwa single tersebut sebenarnya mencapai posisi no. 1, hanya diatur sedemikian rupa untuk menghindari pandangan negatif terhadap keluarga monarki.

Sementara itu, Sex Pistols terus menghangatkan suasana dengan menyewakan sebuah kapal dan berlayar di sungai Thames. Mereka melewati Westminster dan Houses of Parliament dan melakukan pertunjukan live. Aksi diakhiri dengan kerusuhan. Kapal digerebek polisi meskipun sudah mengantongi izin pertunjukan. Malcolm McLaren, anggota Sex Pistols dan semua orang yang berada dalam kapal ditahan. Peristiwa Sex Pistols ini dianggap berbagai pihak sebagai aksi yang menyenangkan dan cara publisitas yang hebat, tapi ada pihak yang tidak dapat menerimanya terutama kaum pro-royalist yang tidak menanggapi humor Sex Pistols. Mereka menyerang para penonton. Johnny Rotten dilukai geng Teddy Boys diluar Pegasus pub sehingga tur Scandinavia ditunda. Tur Inggris selanjutnya pun dilakukan secara rahasia dengan slogan SPOTS (Sex Pistols On Tour Secretly) untuk menghindari pembatalan dari pihak berwajib.

Single-single Sex Pistols kemudian dikumpul dan dijadikan album pertama, Never Mind the Bollocks Here's the Sex Pistols, yang dirilis 28 Oktober 1977. Sampul album yang mengandung kata "bollock" menimbulkan masalah lagi. Satu toko di Nottingham dituntut karena memajangkan album tersebut di kaca, sampai akhirnya profesor bahasa dari University of Nottingham diundang untuk membuktikan kata "bollock" dalam judul album hanya dalam konteks "omong kosong", bukan slang untuk buah zakar pria.

Pertunjukan terakhir Sex Pistols di Inggris diadakan di Ivanhoe's, Huddersfield pada hari Natal 1977 untuk kepentingan anggota pemadam kebakaran yang sedang melakukan aksi mogok kerja. Rencana tur ke Amerika yang dimulai dengan penampilan di Saturday Night Live tidak dapat direalisasikan karena belum mendapatkan paspor, akibat pelanggaran hukum anggota Sex Pistols. Elvis Costello berangkat ke Amerika menggantikan mereka.

Awal 1978, tur ke AS kembali dikoordinisir Malcolm McLaren. Tur yang berlangsung dua minggu itu kacau balau akibat perencanaan yang kurang matang. Sid Vicious dipukuli pengawal yang seharusnya menjaga dia, Johnny Rotten jatuh sakit dan pertunjukan dikecewai oleh sound system yang jelek dan audiens yang hostil. Pada akhir show di Winterland, San Francisco, Rotten yang sudah disilusi menanyakan audiens sebuah pertanyaan yang terkenal, "Pernah merasa anda dibohongi?", sebelum meninggalkan panggung. Rotten mengumumkan pembubaran Sex Pistols. McLaren, Paul Cook dan Steve Jones berangkat berlibur ke Brasil dan Sid Vicious berangkat ke New York, meninggalkan Rotten sendirian di Amerika tanpa tiket pesawat. Akhirnya Warner Brothers membayar tiket Rotten ke London dan mengontrak dia sebagai artis solo.

Musim panas 1978, Steve Jones dan Paul Cook membantu Malcolm McLaren membuat film dan soundtrack The Great Rock `n` Roll Swindle, yang merupakan karya fiktif McLaren atas sejarah Sex Pistols. Jones dan Cook merekam beberapa track tanpa Rotten.

Setelah Sex Pistols bubar, Johnny Rotten kembali menggunakan nama aslinya John Lydon dan membentuk Public Image Ltd (PIL). PIL dikontrak Virgin untuk Inggris dan Warner Brothers untuk Amerika. Sid Vicious menetap di New York menjadi artis solo dan merekam sebuah album. Dia ditahan Oktober 1978 atas tuduhan membunuh pacarnya Nancy Spungen di New York City dan meninggal pada Pebruari 1979 dari overdosis heroin sebelum kasusnya disidangkan. Steve Jones dan Paul Cook membentuk The Professionals dengan sound yang mirip dengan rekaman Pistols paska Rotten, namun band baru ini disfungsi setelah kecelakaan mobil yang melukai beberapa anggota band. Malcolm McLaren kemudian menangani Adam and the Ants dan Bow Wow Wow dan sempat membuat beberapa hits atas namanya sendiri.

Pada tahun 2005, Sex Pistols dinobatkan ke Rock and Roll Hall of Fame. Dalam upacara yang diimpikan banyak artis rock, Sex Pistols menunjukan sifat punk mereka yang tulen dengan menolak hadir dan bahkan mengirimkan fax yang menghujat kekomersilan institusi tersebut. Akan tetapi, pihak penitia Hall of Fame tidak tersinggung dan dengan senyum membacakan fax mereka diatas panggung dan memuji attitude punk mereka.

Discography

Album
1977 Never Mind the Bollocks Here's the Sex Pistols
1979 The Great Rock `n` Roll Swindle

Single
1976 Anarchy in the UK
1977 God Save the Queen
1977 Pretty Vacant
1977 Holidays in the Sun
1978 No One Is Innocent
1979 Something Else
1979 Silly Thing
1979 C'mon Everybody
1979 The Great Rock 'n' Roll Swindle
1980 (I'm Not Your) Stepping Stone
1996 Pretty Vacant" (live)

by http://gruprock.com

Black Sabbath

Black Sabbath adalah band pelopor heavy metal yang bercitra horor dan kesetanan. Mereka kurang disukai kritikus namun pengaruhnya ke genre heavy metal menempati posisi kedua setelah Led Zeppelin.

Dibentuk di Birmingham, Inggris tahun 1968, Black Sabbath terdiri dari anggota yang diperngaruhi musik yang berbeda. Gitaris Tony Iommi dipengaruhi Hank Marvin dari The Shadows dan gitarist jazz Django Reinhardt, drummer Bill Ward dipengaruhi drummer jazz Buddy Rich dan Gene Krupa, bassist Terrance "Geezer" Butler dipengaruhi bassist Jack Bruce dari Cream dan vokalis Ozzy Osbourne dipengaruhi musik The Beatles. Pada awal karir, mereka memainkan musik blues, jazz dan rock dan meng-cover lagu Jimi Hendrix, Blue Cheer dan Cream.

Bassist Terrance "Geezer" Butler adalah seorang penggemar novel black magic. Dia menuliskan sebuah lagu yang diberi judul "Black Sabbath" yang kemudian dijadikan nama band. Ketika band sedang berlatih dalam studio yang terletak di seberang sebuah sinema yang sedang memainkan film horor, Iommi terinspirasi dan menganjurkan band mengarah ke music yang gelap dan menakutkan.

Iommi yang dua ujung jarinya terpotong sewaktu bekerja di pabrik besi men-downtune gitar Gibson-nya dari standar E ke C# supaya kelenggangan senar tidak menyakiti jarinya. Butler menurunkan setelan bass untuk mengimbangi permainan Iommi. Pitch yang rendah membuat musik mereka menjadi heavy dan tepat mengiringi lirik yang gelap. Dengan konsep sound heavy dan gaya pentas Osbourne, Black Sabbath langsung mencapai kesuksesan lewat album pertama Black Sabbath dan album kedua Paranoid.

Album ketiga, Master of Reality, berisi banyak materi akustik. Kematangan karya Black Sabbath terdengar di elemen musik yang bervariasi dalam Black Sabbath Vol. 4 (1974), yang menampilkan balada "Changes" yang dimainkan hanya dengan vokal, bass, piano dan mellotron serta anthem rock "Supernaut" dan "Snowblind" yang diiringi string. Masuk ke pertengahan 1970an, para anggota band, terutama Osbourne dan Ward, berkecanduan narkoba. Ditambah masalah manajemen dan perubahan trend musik pada akhir 1970an, produktivitas dan kreativitas band menurun. Dengan konflik berjalan dan dianggap kurang bertanggung jawab, Ozzy diminta berhenti pada tahun 1979 dan posisinya diganti Ronnie James Dio. Dio menikmati kesuksesan sesaat bersama band dan mempopularkan isyarat tangan tanduk setan yang menjadi simbol heavy metal secara umum. Setelah Dio, Ian Gillan dan Glenn Hughes dari Deep Purple pernah menjadi vokalis Black Sabbath.

Selama 1980an, band tidak pernah stabil dan pada 1990an, pengaruh mereka terasa. Lineup orisinil dibentuk kembali tahun 1997 sampai sekarang.

Setelah beberapa kali dinominasi namun tidak terpilih ke Rock and Roll Hall of Fame, Black Sabbath akhirnya dinobatkan ke musium tersebut pada tanggal 13 Maret 2006.

Discography

1970 Black Sabbath
1970 Paranoid
1971 Master of Reality
1972 Black Sabbath, Vol. 4
1973 Sabbath Bloody Sabbath
1975 Sabotage
1976 Technical Ecstasy
1978 Never Say Die!
1980 Heaven and Hell
1981 Mob Rules
1982 Live Evi
1983 Born Again
1986 Seventh Star
1987 The Eternal Idol
1989 Headless Cross
1990 TYR
1992 Dehumanizer
1994 Cross Purposes
1995 Cross Purposes Live
1995 Forbidden
1998 Reunion
2002 Past Lives

by http://gruprock.com/


AC DC

AC/DC merupakan salah satu band Rock yang cukup berpengaruh pada perkembangan musik cadas. Bersama Led Zeppelin dan Black Sabbath, AC/DC merupakan pengusung aliran Hard Rock adan Heavy Metal.

Band ini kebentuk taon 1973 di Sydney oleh kakak-adik Angus dan Malcolm Young. Nama AC/DC (yang bererti arus listrik searah/2arah) diambil dari adik perempuan mereka yang pas itu baru ngebaca buku listrik.

Setelah beberapa pergantian personil diawal tahun sejak berdirinya AC/DC, akhirnya terbentuk juga formasinya, yaitu : Dave Evans (vokal), Rob Bailey (bass), dan Young bersaudara di gitar. Dengan Line-up ini, mereka manggung keliling Aussie tapi tepat sebelum mereka memulai album pertamanya, semua personil kecuali Young bersaudara diganti oleh Bon Scott (waktu itu profesinya masih jadi sopir bus) di vokal, bassis Maek Evans, drum Phil Rudd.

Tidak seperti formasi pertama yang cuma bertahan beberapa saat, kali ini AC/DC lebih solid, terbukti dengan para pemusik di AC/DC ini sukses membuat 3 album, berturut-turut antara lain; "High Voltage" (1974), "TNT" (1975) disusul "Dirty Deeds Done Dirty Cheap" (1976). Setelah sukses menggelar konser tur di Aussie, Inggris dan Amerika membuat band rock satu ini terkenal dengan image sebagai band liar. Jika melihat Angus Young memainkan gitarnya, semua pasti paham...bahkan dalam setiap konser Angus selalu menyiapkan tabung Oksigen untuk membantu napasnya sesudah memainkan gitar agar tidak pingsan, lets say "Powerful". Di awal 1977 Evans keluar digantikan oleh Cliff Williams.

Dengan anggota baru itu, mereke ngerekam album "Let There Be Rock" yang sukses berada di no.1 di charts lagu Amerika. Tidak puas dengan itu, menyusul "Powerage" dan album live "If You Want Blood, You Got It" mulai dari sini (1978) fans dari AC/DC terdongkrak naek.

1979-1980an Kesuksesan AC/DC menjadikan mereka ikon Rock, mereka benar-benarsuperstar saat itu. Sebabnya; album legendaris mereka (bisa disamain dengan "The Black Album"-nya Metallica) "Highway To Hell", album pertama mereka yang terjual labih dari sejuta kopi.Tragisnya, tidak lama kemudian frontman mereka ditemuin tewas di mobil sahabatnya setelah mabuk berat malamnya.

Tidak mau berlama-lama berduka, AC/DC langsung merekrut Brian Johnson kemudian merilis "Back in Black" yang merefleksikan betapa mereka kehilangan seorang Scott. Album yang mereka rekam terjual sekitar 42 JUTA KOPI di seluruh dunia. Kontan AC/DC bener-bener mendominasi skema musik rock saat itu. Lagi, "For Those About To Rock We Salute You" (1981) mengantarkan mereka merajai charts Amerika.

1982, sambil merekam "Flick Of The Switch" Rudd memutuskan mengundurkan diri. Simon Wright mengisi kekosongan yang ditinggalin Rudd. Bersama Simon AC/DC merekam "Fly On The Wall" (1985), "Who Made Who" (1986) and "Blow Up Your Video" (1988). Tahun pertengahan 80-an aliran musik rock klasik yang diusung AC/DC mulai mendapat tantangan dari para generasi baru yang segar. Dengan munculnya aliran "New Wave Of Heavy Metal" yang dipelopori oleh Def Leppard, Iron Maiden kemudian disusul Guns N" Roses, Metallica, dan Van Halen. 1988, kembali terjadi pergantian, Wright digantiin oleh Chris Slade, tapi di tahun 1994 Slade hengkang digantikan jagoan lama;Rudd!!. Dengan komplitnya personil mereka, keluarlah album "Ballbreaker" (1995), "Stiff Upper Lip" (2000).

Memasuki millenium baru, pesona,karisma ama semangat AC/DC tida bisa dibilang kendur. Bahkan mereka sukses memasukan nama mereka di nomer 5 band paling sukses di sejarah dunia musik Amerika setelah The Beatles, Led Zeppelin, Pink Floyd dan The Eagles. AC/DC juga masih eksis manggung dimana-mana.

Kini setelah lebih dari 30 tahun band ini berdiri AC/DC tetep menjadi influence buat pencinta rock di seluruh dunia dengan sound mereka yang unik dan lirik yang kuat serta nggak ketinggalan, cara Angus memainkan gitarnya.

by: http://famousrock.blogspot.com/

Flowers

dikalangan pecinta musik rock n' roll di Indonesia, nama band yang satu ini sudah tidak asing.
dengan hits seperti Tolong bu dokter yang ngeroll abis mereka seakan menjadi ikon band rock n roll baru saat itu
Personilnya sampai kini memang masih ada, tapi keinginan mereka untuk menghidupkan band ini seperti setengah2.
FLOWERS dibentuk tahun 90-an berawal dari nongkrong bareng di markas Slank di Potlot. band yang awalnya dibentuk oleh dua personil, Boris Simanjuntak (gitar) yang pernah menjadi session player Melly Goeslow, Iwa K, Nugie, Oppie Andaresta dan Njet Barmansjah (vocal).
Njet sendiri pernah gabung di Powerslaves. Band yang juga beraliran rock n’ roll asal Semarang.
Ketika itu Flowers sempat melahirkan satu album berjudul "17 Tahun Ke atas" dengan formasi Boris, Bongky (BIP), Njet, Cole (almarhum) dan Chilink (sekarang Bunglon/DJ).
Band ini kemudian vakum awal tahun 2000-an. Para personilnya memilih sibuk dengan kehidupannya masing-masing terutama setelah Cole (gitar) dipanggil oleh Sang Pencipta.
kabar terakhir mereka sekarang memilih jalur indie sebagai langkah awal kembalinya ke blantika musik Indonesia. Sempat menggaet Hendry Satriawan (x-Junior) dalam pengerjaan musik, Flowers “versi 2” juga memperkuat diri dengan masuknya Dado sebagai drumer dan Leo sebagai pencabik bass (session player Nuggie,Katon).

Led Zeppelin

Kelompok musik rock legendaris asal Inggris yang dibentuk pada September 1968 dengan Personel awal Jimmy Page (gitar), Robert Plant(vokal), John Paul Jones(bass) dan John Bonham(drum).

dengan ciri khas musik yang menonjolkan suara gitar yang keras dan berat mereka dianggap sebagai salah satu band heavy metal pertama. Band ini juga tercatat tidak pernah merilis lagu single, kecuali dalam bentuk album.

namun seiring dengan berjalannya waktu Led Zeppelin kumudian bubar setelah pemain drum John Bonham meninggal pada 1980 karena menghirup muntahan sendiri ketika dia mabuk.
Namun demikian musik mereka tetap melegenda dan tetap dicintai pengemarnya. Bahkan album Led Zeppelin telah terjual lebih dari 300 juta keping.



Rolling Stones

Grup rock legendaris ini dibentuk di London, Inggris sekitar tahun 1962. Dengan formasi Mick Jagger (vocal), Keith Richards (guitar), Brian Jones (guitar), Ian Stewart (piano), Dick Taylor (bass), dan Tony Chapman (drums) grup ini mengawali karir mereka di sebuah klub bernama Marquee Club.
dengan mengawinkan blues dan rock n roll dalam warna yang kasar disertai image pemberontak yang melekat kuat pada diri mereka membuat grup ini mendapat kontrak rekaman 2 tahun kemudian.

Album pertama berjudul THE ROLLING STONES ini dilepas Decca Records tanggal 16 April 1964 dan sempat bertengger di posisi pertama UK Charts selama 51 minggu.
Sukses ini berlanjut terus bahkan saat grup ini berhasil menembus pasar Amerika Serikat yang otomatis adalah tolok ukur suksesnya grup band seluruh dunia. Tak kurang dari 30 album sudah dilepas grup legendaris yang satu ini. Itu belum termasuk album kompilasi dan live album mereka yang jumlahnya tak kalah jauh.

Grup yang sempat identik dengan keributan ini mempercayakan penggarapan logonya pada John Pasche, seorang seniman lulusan Royal College of Art. Logo bibir dan lidah yang terjulur yang konon terinspirasi dari bibir sang vokalis (Mick Jagger) ini mulai melekat dengan image The Rolling Stones sejak tahun 1971 dengan dilepasnya album STICKY FINGERS.

Tembang-tembang mereka seperti (I Can't Get No) Satisfaction, As Tears Go By, Paint It Black, Lady Jane, Jumpin' Jack Flash, dan tentunya Honky Tonk Women memang tak pernah lekang dimakan waktu.
Walaupun sudah berkiprah di dunia musik tak kurang dari 48 tahun, The Rolling Stones masih aktif mengadakan live concert. Dan hebatnya lagi, live concert mereka tak pernah sepi dari pengunjung.
Dengan formasi terakhir Mick Jagger, Keith Richards, Charlie Watts, dan Ronnie Wood, The Rolling Stones melepas album live SHIN



The Brandals

dengan mengusung nama yang terinspirasi dari kecenderungan pola tingkah laku masa puber remaja yang bebas, tidak tunduk pada aturan serta didorong oleh semangat pemberontakan pada kemapanan dan otoritas. maka disepakati nama The Brandals sebagai nama band yang berdiri pada Awal tahun 1999, dengan formasi awalnya adalah Rully Annash, Bayu, Tonny, Doddy, dan Edo sebagai Vokalis.
Sempat vakum sepanjang tahun 2000 karena kesibukan masing-masing personil.
Pertengahan 2001 kembali aktif dan berhasil merekam 2 single di tahun 2002, namun setelah itu Edo mengundurkan diri dan digantikan oleh Eka Annash yang tidak lain adalah saudara Rully Annash dan juga ex-vokalis Waiting Room.
dengan Format konsep musik yang mengambil referensi Rock ‘N Roll dari decade ‘60 & ‘70-an. Band serta musisi Elvis Presley, David Bowie, Velvet Undergound, The Stooges, The Rolling Stones dan The Clash mereka melaju kencang di kancah musik Indie Indonesia.
sepanjang tahun 2003 dan awal 2004 The Brandals berhasil menduduki posisi chart pada tangga lagu pertama di I-radio 89,7 fm Jakarta, Prambors 102,3 fm,Jakarta, MTV On sky 101,6 fm, Jakarta, selama beberapa minggu, selain itu juga menjadi guest interview pada radio-radio tersebut,seperti di radio MTV on Sky untuk MTV cutting Edge, M 97 fm untuk Spirit Of Rock.
tidak berhenti sampai disitu, media televisi juga terkena 'demam' rock n' roll dari band yang sempat menjadi Cover untuk Ripple magazine, yaitu MTV Indonesia-Global TV, The Brandals menjadi MTV Eksklusive Artis untuk bulan Februari 2004 di MTV Indonesia-Global TV,begitu juga dengan video klip The Brandals yang pertama pada lagu Lingkar Labirin yang dibuat oleh the jadugar telah di putar.Menyusul klip dari single ke-2 dari lagu Hati Emosi, telah diputar di MTV Gress pada pertengahan bulan july 2004, juga pada MTV non-stop hits selama bulan agustus-september, dan pada bulan berikutnya akan diputar untuk klip ke-3 pada lagu 100KM/Jam.
alhasil pengaruh The Brandals dianggap sebagai salah satu trendsetter pada fashion on music ketika mereka sempat melakukan interview pada majalah POSTER, Gadis, Kawanku, Hai, MTV Trax dan juga Seventeen, FHM, Djakarta mags, Female etc.Selain itu juga The Brandals masuk untuk rubrik fashion dan mode.

Dewa 19

Empat siswa SMPN 6 Surabaya yang mulai merenda mimpi - mimpi indah menjadi musisi terkenal Pada tahun 1986. Dengan kemampuan pas - pasan mereka mengibarkan bendera DEWA yang merupakan akronim dari nama mereka berempat : Dhani Manaf [Keyboard, Vokal], Erwin Prasetya [Bass], Wawan Juniarso [Drum], dan Andra Junaidi [Gitar]. Waktu itu kegilaan mereka pada musik sudah terlihat. Tidak jarang masing - masing terpaksa bolos sekolah, sekedar untuk bisa ngumpul dan genjrang - genjreng memainkan alat musik. Rumah Wawan di jalan Darmawangsa Dalam Selatan No. 7, yang terletak di salah satu sudut komplek Universitas Airlangga, menjadi markas mereka karena disana terdapat seperangkat alat musik walaupun seadanya namun Dewa bisa berlatih sepuasnya.
Yang membedakan Dewa dengan grup Surabaya lainnya ketika itu adalah warna musik yang mereka mainkan. Kalau grup lain gemar membawakan aliran heavy metal milik Judas Priest atau Iron Maiden, Dewa muncul dengan lagu - lagu milik Toto yang lebih ngepop. Hanya semuanya berubah ketika Erwin yang doyan jazz mulai memperkenalkan musik fudion dari Casiopea. Andra dan Dhani yang semula manteng di jalur rock, akhirnya ikutan juga. Format musik Dewa pun perlahan - lahan bergeser, bahkan mereka bukan cuma memainkan lagu - lagu Casiopea, tapi juga karya dari musisi jazz beken lainnya seperti Chick Corea atau Uzeb. Dhani, Erwin, dan Andra lantas berangan - angan ingin seperti Krakatau atau Karimata, dua kelompok jazz yang lagi kondang saat itu.
Ini membuat Wawan murung, penggemar berat musik rock ini merasa warna Dewa sudah keluar jalur. Akhirnya Wawan memutuskan keluar pada tahun 1988 dan bergabung dengan Outsider yang antara lain beranggotakan Ari Lasso. Setahun kemudian menyeberang ke Pythagoras. Posisi Wawan di Dewa lantas digantikan kakak kelasnya, Salman.
Nama Dewa pun berubah menjadi Down Beat, diambil dari nama sebuah majalah jazz terbitan Amerika. Untuk kawasan Jawa Timur dan sekitarnya, nama Down Beat cukup dikenal terutama setelah berhasil merajai panggung festival. Sebut saja Festival Jazz Remaja se-Jawa Timur, juara I Festival band SLTA '90 atau juara II Jarum Super Fiesta Musik. Sementara itu Pythagoras pun berhasil jadi finalis Festival Rock Indonesia yang digelar promotor Log Zhelebor. Tapi bagi keempat cowok yang secara psikologis masih dalam pencarian jati diri itu, jazz ternyata juga hanya sebuah persinggahan. Begitu nama Slank berkibar impian mereka pun berubah. Wawan Juniarso segera dipanggil kembali untuk menghidupkan Dewa dan Ari Lasso ikut bergabung. Nama Dewa kembali tegak, bedanya kali ini pakai embel - embel 19 semata karena rata - rata usia pemainnya 19 tahun.
Seperti halnya Slank, Dewa 19 pun mencampuradukkan beragam musik jadi satu : pop, rock, bahkan jazz, sehingga melahirkan alternatif baru bagi khasanah musik Indonesia saat itu. Teman sekelas Wawan, Harun rupanya tertarik oleh konsep tersebut dan segera mengucurkan dana Rp. 10 juta untuk memodali teman - temannya rekaman. Tapi karena di Surabaya tidak ada studio yang memenuhi syarat, mereka terpaksa ke Jakarta padahal jumlah dana tadi jelas pas - pasan. Walhasil mereka harus ngirit habis - habisan, segala hal dikerjakan sendiri termasuk mengangkat barang dan sebagainya. Tapi disini musikalitas mereka teruji.
Album perdana, Dewa 19 rampung cuma 25 shift saja. Termasuk luar biasa buat ukuran musisi daerah yang baru saja menginjak rimba ibukota. Dengan master di tangan, Dhani gentayangan dari satu perusahaan rekaman satu ke perusahaan rekaman lain pakai bus kota, sementara Erwin, Wawan, Andra dan Ari menunggu hasilnya di Surabaya. Sempat ditolak sana - sini, master itu akhirnya dilirik oleh Jan Djuhana dari Team Records, yang pernah sukses melejitkan Kla Project.Di luar dugaan, angka penjualan album Dewa 19 meledak di pasaran, setelah melewati angka 300.000 kopi, pihak BASF mengganjar mereka dengan dua penghargaan sekaligus. Masing - masing untuk kategori Pendatang Baru Terbaik dan Album Terlaris 1993. Dalam pembuatan album Format Masa Depan diwarnai oleh hengkangnya Wawan Juniarso karena tidak adanya kecocokan diantaranya.
Setelah itu dalam pembuatan album berikutnya Dewa menggunakan additional music untuk drummernya yang antara lain : Ronald dan Rere. Setelah album Terbaik - Terbaik selesai, masuklah Wong Aksan menempati posisi drummer.
Namun setelah menyelesaikan pembuatan album Pandawa Lima, pada tanggal 04 Juni 1998 Wong Aksan dikeluarkan dari Dewa 19, sebab pukulan dram Aksan dinilai mengarah ke musik jazz dan sebagai gantinya masuklah Bimo Sulaksono (mantan anggota Netral). namun karena dirasakan bahwa Dewa 19 akan konsentrasi dijalur musik rock, dan membutuhkan seorang drummer dengan tipikal permainan musik rock. Bimo pun akhirnya hengkang dari grup ini dan bergabung dengan Bebi untuk membentuk grup Romeo.
Ditengah masalah pergantian personil ditubuh Dewa, masih ada masalah lain yang lebih berat yaitu dua orang personil Dewa, Ari & Erwin mengalami ketergantungan Narkoba. Hal ini menyebabkan Dewa vakum dalam dunia musik Indonesia. Ari Lasso yang sangat sulit dihubungi sempat menyebabkan Album Dewa bintang 5 tertunda. Erwin memutuskan untuk masuk rehabilitasi dan pesantren untuk menghilangkan kebiasaan buruknya itu.
Akhirnya setelah melewati waktu yang cukup lama Erwin berhasil sembuh total dan mulai mempersiapkan diri untuk menyelesaikan Album ke 5, meskipun Erwin hanya sebagai Additional player. Tapi masalah tidak berakhir sampai disitu, karena Ari Lasso semakin sulit dihubungi, akhirnya Dewa memutuskan untuk mencari pengganti Vokalis yang ikut membesarkan nama Dewa itu. Akhirnya Dhani bertemu dengan Elfonda ”Once” Mekel dan mengajak untuk bergabung. Karena posisi drummer masih kosong, Dewa juga memutuskan untuk mencari pengganti Bimo. Kebetulan Once mempunyai teman seorang Drummer yaitu Tyo Nugros yang akhirnya resmi menjadi Drummer Dewa.
Setelah cukup lama menyiapkan materi untuk album ke lima yang bertajuk “Bintang Lima” pada tahun 2000 album ini berhasil di release. Ternyata dengan pergantian 2 orang personil di tubuh Dewa tersebut membawa angin segar, dengan meledaknya Album Dewa yang kelima tersebut. Erwin kembali resmi menjadi bassit Dewa. Dan diharapkan ini adalah formasi terakhir Dewa. Berhasilnya Album kelima memacu Dewa untuk segera membuat Album selanjutnya, yaitu Album enam yang diberi judul “Cintailah Cinta”. Album ini dipersiapkan secara matang dan terkonsep, sehingga dalam kurun waktu yang cukup singkat akhirnya album ini bisa di release awal tahun 2002. Ditengah-tengah release album keenam ini banyak masalah yang muncul.
Diawali dengan kasus judul lagu “Arjuna Mencari Cinta” yang dipermasalahkan dan akhirnya Dewa memutuskan untuk mengganti judul tersebut menjadi “Arjuna”. Belum selesai masalah judul lagu Dewa kembali harus kehilangan seorang personilnya. Erwin mundur dari Dewa, kabarnya dipicu beberapa hal yang konon tidak bisa ditolerir lagi yang berhubungan dengan masalah Manajemen. Dewa memutuskan untuk mencari pengganti Erwin dan muncul satu nama yaitu Yuke, bassist band The Groove. Yuke diajak bergabung sebagai additional player. Dengan diterpa berbagai masalah yang silih berganti tersebut tidak menyurutkan semangat Dewa untuk tetap eksis. Bahkan semakin membesarkan namanya sebagai Band yang paling berkibar di blantika musik Indonesia.

Plester X

Persatuan, Persaudaraan, Kebersamaan, Bangga menjadi diri sendiri (positive atittude) dan Semangat Hidup adalah nafas dalam setiap lagu-lagu mereka, dengan dibalut hentakan 70's punk rock yang bernuansa rock n roll dengan singalong choruses yang diteriakkan dengan lantang dan jujur adalah ciri khas dari band Oi! Punk pertama dari Surabaya yang bernama Plester-X ini.
Band yang terbentuk pada tahun 1996 ini sebelumnya dikenal dengan nama Plester dengan formasi awal band ini adalah Arief (Bass/Voc), Achox (Drum), Bibin (Guitar) dan Dedes (Guitar). Pada tahun 2000, dengan nama Plester-X, mereka merilis album yang bertitel "LET'S UNITE" di bawah bendera label mereka diri, senSLOKI Recs. satu lagu dari Plester-X yang berjudul United Punk N Skins yang direkam secara live on stage ikut dalam kompilasi "SURABAYA BERSATU" yang dirilis oleh BONEKA TANAH Recs dan pada tahun yang sama satu lagu dari Plester-X yang berjudul Drunk N Unite ikut dalam Kompilasi "Let's Unite" oleh KITASATU Recs.
tetapi karena harus bekerja di luar kota, di tahun yang sama (2001) Dedes (Bass) mengundurkan diri dan posisi pemain bass pun menjadi berganti-ganti sepanjang tahun tersebut sampai dengan 2002.
adapun nama-nama yang pernah mengisi posisi sebagai pemain bass di Plester-X antara lain : Yoni ex drummer RI RIOT dari Purwokerto, Adi Gembol ex gitaris The STOMPERS dan Dalbo ex bassis MORNING SICKNESS, sampai akhirnya Tim Bull ex bassis ANARCHY JUICE bergabung dan menjadi bassis tetap.
namun gonta ganti personel tersebut tidak menghalangi mereka untuk tetap eksis. karena terbukti sampai saat ini mereka masih tetap ada dengan formasi Bibin (gitar), Lutfi (drum), Ayik (vocal),Terry(gitar), Tim Bull (bass).


Powerslaves

band yang membawakan musik Rock n' Roll & Blues ini berdiri sekitar April 1991 di kota Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. diawali pertemuan Anwar Fatahillah (bass) dengan Heydie Ibrahim (vocal) yang memiliki kecocokan dalam konsep musik. Setelah merekrut personel pendukung lainya yaitu Kolem (gitar), Randy (gitar),Vidi (drum) dan Wiwik (kibor), akhirnya band Powerslaves pun berdiri dengan kekuatan yang solid. Nama Powerslaves diambil dari ensiklopedia yang artinya Sekelompok tentara Nabi Musa yang memiliki kekuatan dari dalam. Tapi bagi mereka ada penjabaran khusus yaitu kekuatan untuk menghasilkan musik keras tetapi tetap harmonis. kekuatan musik Powerslaves adalah musik rock yang harmonis. maka tak heran banyak kalangan yang mengatakan saat itu, Powerslaves adalah terjemahan musik dari band top dunia, Guns N' Roses dan Led Zeppelin. Powerslaves mulai terkenal di industri musik indonesia setelah merilis album pertama yang berjudul "Metal Kecil" pada tahun 1991 dan menghasilkan hit single "Impian". hingga tahun 2004, Powerslaves telah menghasilkan 5 album. setelah itu cukup lama mereka 'cuti' dari industri musik Indonesia dan berganti personel
namun Setelah sempat vakum selama dua tahun, akhirnya band yang berdiri pada tahun 1991 ini memutuskan untuk kembali terjun mewarnai Industri musik Indonesia. Kembalinya Hedi Ibrahim, sang vokalis, membuat amunisi band ini kembali sempurna. Hedi bergabung kembali dengan keempat rekannya yang lain yakni Anwar Fatahilah (bass), Acok Zibrani (gitar), Yedi (gitar), dan Fanniko (drum), setelah sempat absen pada album kelima.
Menurut Anwar, sang basis band ini, kembalinya Hedi membuat dia dan yang lainnya menjadi optimistis untuk menapaki kembali blantika musik Indonesia. meski Andrian Franzzy (Guitarist) telah bergabung dengan Boomerang.
Wujud dari keseriusan come back mereka, tahun depan Anwar dkk berencana untuk merilis album keenam untuk mengobati kerinduan para fansnya.
Lagipula menurut Anwar, bandnya masih memiliki utang album kepada label yang menaungi mereka. untuk itu mereka berniat menuntaskannya dengan formasi yang menurut Anwar sebagai formasi paling sempurna, setelah band ini sempat beberapa kali gonta-ganti personel.
Pada album baru ini Power Slaves berusaha menampilkan karakter yang kuat. ”Kita ingin membuktikan bahwa kita masih eksis dan musik kita masih bisa dipertanggungjawabkan,” lanjut Anwar.
Soal basic musik, Anwar menegaskan bahwa bandnya masih tetap setia mengusung musik yang beraliran rock’n roll. ”Kita masih tetap mengedepankan idealisme bermusik kita, karena ini semua merupakan kerja tim secara keseluruhan,” tambahnya.
Pengalaman break yang cukup lama menjadi ajang introspeksi diri masing2 personil. ”Saya harus jujur bahwa saya tidak bisa lepas dari musik. Musik adalah hidup saya, dan Power Slaves adalah rumah saya. Itu yang membuat saya tertarik untuk kembali,” pungkas Hedi.



The Changcuters

Sebelum dikenal banyak orang seperti sekarang. rupanya The Changcuters terlebih dahulu popular di kota asal mereka. Bandung.
Sesuai konsep awal, kelima cowok 'aneh' ini mulai dikenal berkat lagu-lagunya yang sering diputar bahkan menduduki chat tertinggi di beberapa stasiun radio Ibukota Jawa Barat tersebut.
Ketika masih sebagai anak band indie bahkan tak berhenti sampai disitu, band yang kini sedang syuting sekuel film Tarik Jabrix 2 ini juga pernah merasakan Rookie of the Years oleh salah satu majalan Bandung.
Sebelum memakai formasi seperti yang sekarang ini, awalnya band ini hanya diisi oleh 3 orang. Tria, Dipa, dan Qibil.
Hobi yang sama dan sekampus yang membuat mereka cocok satu sama lain. Berangkat dari kekaguman akan setiap konser musik yang mereka saksikan, tepatnya 19 september 2004 akhirnya mereka memutuskan untuk membuat sebuah band.
Tak lama kemudian formasi terbentuk dengan masuknya Eric dan Alda yang kemudian menjadi pemain inti setelah sebelumnya menjadi additional player.
Pada saat mereka hendak mencari label rekaman Major, mereka bertemu dengan Uki Peterpan yang dulunya pernah satu band dengan Qibil dan Eric. Mereka pada awalnya hanya ingin berkonsultasi dengan Uki tentang Industri musik, namun nasib berkata lain, tenyata Uki tertarik untuk memproduseri mereka karena pada saat yang bersamaan Uki sedang mencoba membuat label rekaman baru yang bernama Masterplan Records dan The Changcuters menjadi band releasan pertama mereka.

The Kliwon


Semua berawal ketika saya dan Jo2 sudah merasa tidak ada kecocokan lagi dengan para personel band kami, hingga akhirnya kami memutuskan untuk mundur dari band.
cukup lama bagi kami untuk menentukan warna musik yang akan kami bawa ke dalam band baru yang akan kami bentuk.
hingga suatu hari teman sekelas datang sambil menunjukkan album Nevermind milik Nirvana untuk saya dengarkan, dan pada saat
itulah saya merasa bahwa inilah warna musik baru yang harus saya bawa dalam band baru yang akan saya bentuk.
JO2 pun tidak merasa keberatan dengan musik Grunge yang saya tawarkan
.
hari berganti hingga suatu hari saya ditawari seorang teman untuk membantu salah satu band sekolah untuk mengisi acara Parade

Musik di sekolah, dan disitulah awal saya bertemu dengan Hadie.

semangatnya dalam bermusik yang membuat saya tertarik, meskipun dengan bantuan tongkat untuk menyanggah kaki yang masih luka

akibat kecelakaan yang dialami. dia tetap enjoy dan semangat memetik bass.
Jo2 pun saya kenalkan dengan Hadie yang ketika itu satu sekolah dengan kita namun beda kelas, dan tidak lama kita ngejam untuk

yang pertama di studio pada Bulan Januari 2003.
waktu berlalu...
dengan membawwakan musik Grunge dan diselingi lagu ciptaan sendiri kita terus manggung dari satu sekolah, kampus atau

acara-acara festival musik...

beragam piagam dan piala juga sudah pernah kita rasakan dari beberapa festival yang kita ikuti.
sempat juga kita tertipu oleh salah satu Label Indie di Surabaya Timur
ketika kita kelas II SMU pada tahun 2004, yang

menawarkan sistem royaliti namun tak ada bukti yang nyata sampai sekarang karena tak sepeserpun dari hasil penjualan yang kita terima.
tapi ada sedikit rasa bangga yang tersimpan dalam dada, karena tidak gampang untuk mencapai itu meski akhirnya kita ditipu.
waktu terus berlalu hingga kita lulus SMU, dan teman2 sudah memiliki kesibukan masing2...

sekarang yang tersisa hanya kenangan manis akan kebersamaan masa sekolah di masa lalu...
tapi sampai sekarang saya masih berharap agar Jo2 dan Hadie dapat kembali untuk membangkitkan lagi band kita agar dapat

mewarnai musik di kota kita yang kini saya rasa semakin tidak karuan

Koes Plus

Early days and controversy
The group started out as Koes Brothers, consisted entirely of the Koeswoyo siblings. Its antics of bringing up Beatles-influenced rock 'n' roll subculture in Indonesia was proven to be controversial, as the brother were then be arrested by the Highest Operation Commando (KOTI) in 1965. They were eventually released just the day preceding the nation's coup d'état, in September 29.

Koes Plus
When drummer Nomo quit in 1969, Murry was then invited to fill the niche, but the decision caused an internal uproar as the band was initially projected as a family act. The feud was then being resolved by rebaptizing the band to be Koes Plus. It consisted of the Koeswoyos plus an outsider; hence the name.
Koes Plus' early days were rugged, as record companies insisted in rejecting them. Murry was driven frustrated at some point and temporarily quit the band, distributing their records freely as well as joining several other acts. Not until their songs were played in the state radio network did they met considerable fame.

Present years
Koes Plus, infamously, never owned any legal rights pertaining to their works- they were paid only by the time they produced an album. Consequently, the band never enjoyed any form of royalties whenever their works are being reproduced. In recent years the personnels had been shown encountering financial problems despite having their legacies continuously relived in local music scenes.


Members

Tonny Koeswoyo
Yon Koeswoyo
Yok Koeswoyo
Nomo Koeswoyo
Murry

Former members

John Koeswoyo
Tonny Koeswoyo