Allow me to introduce myself. My name is Caleb Dennis, and I have played and sang Gospel music since I was 10 years old. I guess my love for music started when I went to my first concert. It was at a local church were the premier First Family of Bluegrass Gospel Music, The Sullivan Family, was to perform. I sat through the whole concert, and afterwards I went to meet them and purchased some of their recorded material.
I remember the first tape I bought was titled Live in Philidelphia. I began to play along with the tape, with a fiddle I had purchased about a year before at a local pawn shop. I learned many of the notes and styles from the tape. I guess about two years later, the Sullivan Family returned to my hometown, to a Church in Pensacola Florida. I penciled this date on my calendar, for I was not going to miss it!
Sometime during the concert a lady of the Church that knew me really well, told the group I was present and played fiddle. The next think I knew I was on stage with the Legendary Sullivan Family. That night after the show was over, the First Lady of Bluegrass Gospel Music, "Margie Sullivan" asked me to perform in Branson Missouri at Silver Dollar City theme park. Being a kid of only 11 years of age of course I was overjoyed!
For the next 5 years I toured over the United States with the Sullivan Family. During this time I met another guy my age, by the name of Alan Sibley, that sang and played the mandolin. He was hired in to the group one year later than I. In the next 4 years we traveled to many places with the group. We made tours to Branson MO, and Bill Monroe's homeplace festival in Rosine KY, performing with many bands such as Ralph Stanley and the Clinch Mountain Boys, Larry Sparks, Ricky Skaggs and many many others. We traveled over 200,000 miles per year with the Sullivan Family and toured in over 30 states.
Alan and I left the Sullivan's around 18 years old, and then went to work with Larry Wallace. Wallace is a 10 year veteran of "Jimmy Martin and The Sunny Mountain Boys." Now Alan and I sing on our own, full-time, touring and playing many Churches and Restaurants over the States. My advice to anyone aspiring a career in music is to go for it! It takes hard work and dedication, but it can be done!
A career in music since youth
Paul Gilbert
Dewa gitar yang Sebelumnya dikenal melalui Mr.Big ini pernah 'menggemparkan' dunia pada tahun 1986-1987 sebagai pemain gitar tercepat di dunia masih bergabung dengan group band Racer X, padahal usia dia waktu itu masih 17 tahun.
ketika usia 5 tahun (1971) Paul sudah mulai mempelajari gitarnya, 10 tahun berikutnya (1981) Paul coba mengirim demo rekamannya ke produser Mike Varney dan di luar dugaanya Mike sangat mengagumi permainannya di samping Tony Macalpine.
Pada tahun 1984 Paul pindah ke LA dan melanjutkan sekolah gitarnya ke GIT (Guitar Institute of Technology). Lalu Pada tahun 1986 dia bergabung dengan band pertamanya Racer X dengan album debutnya "Street Lethal ", kemudian "Second Heat" (1987) & "Live! Extreme Volume" (1988).
Pada tahun 1989 Paul meninggalkan Racer X dan bergabung dengan group band MR.BIG dengan Formasi Billy Sheehan (bass), Eric Martin (vocal) dan Pat Torpey (Drum).
Mereka meluncurkan album pertamanya "MR.BIG" dan MR.BIG tampil untuk pertama kalinya di Jepang pada bulan Oktober.
Lagu "To Be With You" (dari Album "Lean Into It") menduduki posisi pertama di majalah Billborad USA selama 3 minggu. Pada tahun 1998 Paul tampil pertama kali di Jepang dengan solo albumnya. Paul meluncurkan album solo "Flying Dog". Tahun 1999 Paul kembali ke Jepang dan meluncurkan album solo kedua "Beehive Live" dan album ketiga Racer X "Technical Difficulties". Tahun 2003 album Burning Organ dirilis, kali ini masuk ke label Indonesia dibawah
naungan Staria Enterprise. Namun album berikutnya, Acoustic Samurai tidak lagi di Satria, melainkan berpindah ke label Variant Music. Kemudian Paul menggelar promo tur album "Spaceship One" hingga ke Indonesia. Hal ini disambut antusias oleh penggemar-penggemarnya, pasalnya banyak artis asal Amerika yang menarik diri karena takut disweeping oleh pihak-pihak tertentu.
Discography "Street Lethal" (1986),
"Second Heat" (1987)"
"Live! Extreme Volume" (1988).
"Live! Raw Like Sushi" (1990),
"Mr Big - Lean into it" (1991),
"Mr.Big - San Francisco Live" (1992),
"Racer X - Live Extreme Volume 2" (1992),
"Mr.Big - Bump Ahead" (1993),
"Mr.Big - Live! Raw Like Sushi 2" (1994),
"HEY MAN" & " The best of MR.BIG" (1996),
"Hard Rock Cafe", " Live At Budokan " & solo " King of Club" (1997)
Suramadu
Jembatan Suramadu pada dasarnya merupakan gabungan dari tiga jenis jembatan dengan panjang keseluruhan sepanjang 5.438 meter dengan lebar kurang lebih 30 meter. Jembatan ini menyediakan empat lajur dua arah selebar 3,5 meter dengan dua lajur darurat selebar 2,75 meter. Jembatan ini juga menyediakan lajur khusus bagi pengendara sepeda motor disetiap sisi luar jembatan.
Sementara itu Jembatan penghubung atau Approach bridge menghubungkan jembatan utama dengan jalan layang. yang terdiri dari dua bagian dengan panjang masing-masing 672 meter.
Jembatan ini menggunakan konstruksi penyangga beton kotak sepanjang 80 meter tiap bentang dengan 7 bentang tiap sisi yang ditopang pondasi penopang berdiameter 180 cm.
Jembatan utama atau Main bridge terdiri dari tiga bagian yaitu dua bentang samping sepanjang 192 meter dan satu bentang utama sepanjang 434 meter.
Jembatan utama menggunakan konstruksi cable stayed yang ditopang oleh menara kembar setinggi 140 meter. Lantai jembatan menggunakan konstruksi komposit setebal 2,4 meter.
Untuk mengakomodasi pelayaran kapal laut yang melintasi selat Madura, jembatan ini memberikan ruang bebas setinggi 35 meter dari permukaan laut
Jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dan pulau Madura ini sekarang menjadi salah satu ikon Indonesia dengan panjang 5.438 m, menjadikan jembatan Suramadu menjadi jembatan terpanjang di Indonesia untuk saat ini.
selain itu, Pembangunan jembatan Suramadu juga ditujukan untuk mempercepat pembangunan di pulau Madura yang relatif tertinggal dibandingkan kawasan lain di Jawa Timur, yang meliputi bidang infrastruktur dan ekonomi di Madura,
Pembangunan Jembatan dengan perkiraan biaya Rp. 4,5 trilyun ini diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 20 Agustus 2003 dan terdiri dari 3 bagian yaitu Jalan layang (causeway), Jembatan penghubung (approach bridge) dan Jembatan utama (main bridge).
Pembuatan jembatan ini dilakukan dari tiga sisi, baik sisi Madura (Bangkalan) maupun sisi Jawa (Surabaya). Sementara secara bersamaan juga dilakukan pembangunan bentang tengah yang terdiri dari main bridge dan approach bridge.
Jembatan Suramadu akan diresmikan pada 10 Juni 2009, namun menurut sumber yang saya dapat Jalan akses Suramadu (Surabaya-Madura) sepanjang 11,7 kilometer yang terletak di sisi Kabupaten Bangkalan, diperkirakan rawan tindak kriminalitas. Pasalnya, di sepanjang jalur tersebut minim lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) dan jauh dari pemukiman penduduk.
Pantauan di sekitar jalan Suramadu mulai dari tol gate yang terletak di Kecamatan Labang hingga pintu keluar di Kecamatan Burneh, hanya ada tiga kawasan yang terpasang PJU. Itupun kurang memenuhi standar. Bisa diprediksi, minimnya PJU tersebut dapat membuat para pelaku kriminal leluasa dalam melakukan aksinya, terutama para curanmor dan bajing loncat.
Kondisi tersebut dibenarkan Ketua Komisi Pelayanan Publik (KPP) Kabupaten Bangkalan Fathurrahman Said. Dia beranggapan, sepanjang jalan akses Suramadu tergolong rawan kriminal, khususnya saat menjelang petang hingga malam hari karena alasan yang sama.
"Bisa kita bayangkan, selain minim PJU, di sekitar jalan akses juga minim rumah penduduk. Ini membuka peluang lebar bagi pelaku kejahatan," ujarnya
Dia menyayangkan minimnya lampu PJU yang terpasang di sepanjang Suramadu. Dia menilai, bila kondisi tersebut terus dibiarkan dan tidak ada penanganan lebih serius, besar kemungkinan warga atau pengguna jasa jembatan Suramadu akan berpikir ulang untuk melintas.
Recording Sound For Film
For both film and TV sound recording, microphones, mixing boards, and DAT recorders are important equipment that should be understood by producers and sound engineers.
Many sound engineers prefer the use of external dynamic shotgun mics. These are mics at the end of a long boom which can make a big difference in the final sound quality to be edited; for instance, ambient equipment sounds are diminished considerably.
Some people choose wireless microphones for more precise mic placement. Some people say that wireless mics don't have the same signal fidelity as wired ones, but they are in the minority.
Most film sound is sent through a mixing board and not directly to the recording device. This allows for very subtle fine-tuning of sound, the way a large graphic EQ in a component stereo system allows one to get the "perfect" sound playback for different recordings.
Film sound engineers also make heavy use of the DAT recorder. These "digital audio tape" recorders were first developed by Sony in the early 1980s.
Sony discontinued their production in early 2006 to make way for the hard disk recording revolution but DAT recorders are still in heavy use in film.
DAT recorders are especially used for on-location filming as they allow for much greater post-production sound editing control. They're great for capturing "natural" background sound.
Film actors add in their voices later on via over-dubbing. They speak their lines aloud on camera but their voices are not recorded at that time, or if it is, this will be totally replaced later on in a recording studio through Automatic Dialogue Replacement.
Special effects sounds such as the firing of laser cannons in "Star Wars" are also recorded separately and dubbed in later. The mixing-in of sounds later on in film allows for very great levels of control over the final quality, which is why film sound quality often seems more "sonorous" than TV production sound.
For film, a sound editor will take separate tracks of dialogue, special effects, and music scoring and dub them all together into a multitrack recording and edit the mix later on.
Modern film making, especially for independent productions, makes increasing use of computer-based DAWs, or digital audio workstations.
Using a computer, an ADC-DAC (analog to digital/digital to analog converter), and digital audio editor software, the sound editor uses the computer's sound card acts as an audio interface, especially when converting analog audio signals into digital form.
The software controls the two hardware components and provides a user interface to allow easy access to recording and editing.
Some modern DAWs, such as the Euphonix System 5-MC integrated DAW controller, are made to integrate with other computerized DAWs such as Pro Tools, Nuendo, Logic Pro, Digital Performer and Pyramix. These give ever more powers of control and refinement to sound recording editors.
by:Joseph Vautour
Dave Mustaine
Gitaris dan Penulis lagu yang lahir di La Mesa, California, Amerika Serikat, 13 September 1961 ini adalah salah satu musisi thrash metal yang paling berpengaruh di industri musik metal.
Orang tua Mustaine bercerai ketika ia berusia tujuh tahun, yang menyebabkan dia tumbuh di berbagai tempat kumuh di sekitar Southern California.
Pada tahun 1981 James Hetfield dan Lars Ulrich memasang iklan pada salah satu koran terbitan lokal disana yang intinya mencari seorang gitaris untuk membentuk band baru, dan ketika Dave Mustaine sedang mencoba menjawab iklan tersebut dengan mendatangi garasi tempat James Hetfield dan Lars Ulrich berlatih, dalam sekejap mereka berdua terpana ketika melihat aksi Dave Mustaine bermain gitar. dan Dave Mustaine pun bergabung dalam pembentukan grup Metallica,
namun sayang kebersamaan mereka tidak lama, Dave Mustaine dikeluarkan karena masalah obat terlarang sebelum band itu merekam album pertama mereka.
Mustaine kemudian membentuk Megadeth bersama basis David Ellefson. Setelah merilis 9 albums studio dan berbagai rekaman konser dan kompilasi, di bulan Januari 2002 Mustaine mendapat kecelakaan motor yang mengakibatkan cedera di tangan kirinya. Karena ia tidak dapat lagi memainkan gitar, ia menyatakan diri keluar dari Megadeth dan pada bulan April tahun itu juga Megadeth bubar.
Pada tahun 2004, setelah menjalani terapi intensif, Mustaine telah pulih dari cederanya dan bermain musik kembali. Ia mengajak Chris Poland, mantan gitaris Megadeth untuk bekerja dalam proyek solonya. Atas tekanan dari perusahaan rekaman, album ini kemudian direkam sebagai Megadeth dan dirilis dengan judul The System Has Failed.
Sewaktu manjalani terapi intensif, Dave Mustaine berubah keyakinan, dan memilih untuk memeluk agama Kristen. Dia juga mengganti pandangan politiknya menjadi konservatif dan mendukung Partai Republik. Sangat berbeda sekali bila dibandingkan dengan pandangan politiknya yang tersurat di album-albumnya yang dulu.
Selain terkenal dengan bandnya Megadeth dan Metallica, Mustaine juga terkenal karena terlibat banyak kasus di kalangan industri musik Amerika.
Kasusnya yang paling terkenal tentunya adalah permasalahan dengan Metallica, terutama dengan drummer Lars Ulrich. Dave Mustaine menuntut bahwa dia telah menulis beberapa lagu Metallica, yang paling terkenal "Leper Messiah". Tetapi Metallica menolak pernyataan Mustaine. Fans Mustaine percaya bahwa lagu Metallica yang berjudul "Master Of Puppets" sebenarnya diciptakan oleh Mustaine, tetapi kemudian dicuri oleh Metallica.
Gugun dan The Bluesbug
Lazimnya, perjalanan popularitas artis Indonesia merayap dulu di negeri sendiri untuk kemudian ”mendunia”. Namun, tidak demikian dengan Gugun dan grup musik blues-nya, The Bluesbug. Gugun memilih langsung ”mendunia” terlebih dahulu.
Gugun and The Bluesbug pada 25 Januari 2009 nanti akan ikut meramaikan ”Skegness Rock and Blues Festival”, festival musik blues tahunan di Inggris. Biasanya, tidak hanya pemusik-pemusik blues Inggris yang menjadi pesertanya, tetapi juga dari berbagai penjuru Eropa, seperti Swedia, Italia, dan juga Amerika Serikat.
Tentu, dari sekitar 30 peserta Skegness Blues kali ini, trio Gugun and the Bluesbug adalah satu-satunya penampil dari Indonesia, ”Bahkan mungkin satu-satunya dari Asia,” tutur Jon Armstrong, pemain bas The Bluesbug yang berkewarganegaraan Inggris. Penabuh drum di Skegness nanti adalah Adityo Wibowo alias Bowie (24).
Selama tiga pekan dalam Januari nanti, menurut Jon, Gugun, yang memang dikenal ”fanatik” bermain gitar blues sejak masih usia SMA ini, akan tampil dalam 20 pertunjukan di klub-klub musik blues di London, Manchester, Birmingham, dan Nottingham.
”Ini bukan pula kali yang pertama dia main di Inggris,” tutur Jon Armstrong (28), yang pernah menjadi guru bahasa Inggris di Jakarta, beristrikan perempuan Aceh, dan mempunyai dua anak ini.
Bulan Desember tahun 2007, Gugun yang bernama asli Mohammad Gunawan dan lahir di Duri, Riau, 22 November 1975, ini juga pernah melanglang bermain musik blues selama empat minggu di Inggris. Ketika itu, Gugun juga tampil dengan format trio, bersama Jon Armstrong dan penabuh drum asal Inggris, Tom Townsend.
Selama empat minggu, Gugun bermain di Burnly (dekat Manchester), Scarborough, dan tiga kali dalam seminggu tampil di sebuah klub blues di Crewe. Di sini, Gugun tampil berempat, dengan tambahan Al Lawrence sebagai pemain harmonika dan tamborin.
Petikan gitar blues Gugun mulai dilirik publik blues Eropa ketika dia tampil dalam ”Belfast Big River Blues and Jazz Festival”. Saat ia melakukan ”tur” keduanya pada Agustus 2008.
”Pete Barton (pemain bas grup musik terkenal, The Animals yang kebetulan juga agen Skegness Rock and Blues Festival), mengundang Gugun ke Skegness 2009,” cerita Jon Armstrong pula.
Ini tentunya kesempatan emas untuk memperkenalkan nama Indonesia di mata penggemar blues di Inggris.
Selain bermain di klub-klub blues di Birmingham, pada Agustus 2008 lalu Gugun juga mempertunjukkan kepiawaiannya bermain gitar blues di Oxford, Leeds, York, Rotherham (dekat Sheffield), serta ”Colne Great British R & B Festival” di dekat Manchester.
Selain di Inggris, menurut Gugun, ia juga pernah main di Kuala Lumpur, Malaysia, Maret 2008, serta Cheranting di Pahang. Ia tampil pula pada Blues Festival dalam rangka ”Singapore Art Festival 2008”.
Gugun juga mengisi ilustrasi musik dalam film laris Laskar Pelangi. Tentu saja lagunya berirama blues, Mengejar Harapan.
Permainan gitar Gugun memang bisa dikatakan mumpuni. ”Permainannya merupakan perpaduan antara (gitaris blues terkenal) Lenny Kravitz dan Jimi Hendrix, sambil ’menggendong’ Stevie Ray Vaughn,” ujar Jon berkias.
Ia melukiskannya demikian, lantaran Gugun tidak hanya piawai memetik gitar blues sembari memejamkan mata, tetapi juga piawai menyanyi lagu blues.
”Permainan gitarnya komplet. Gugun bisa memainkan blues, fusion, funk, dan soul. Dia bermain gitar dengan hati,” kata Jon memuji rekan mainnya yang sudah dia kenal sejak mereka suka bermain di klub-klub malam di kawasan Kemang, Jakarta, dan Bali, pada tahun 2003-2004.
Meski demikian, lantaran Gugun bermain di jalur indie (independen) dan tidak pernah rekaman lewat label besar, pria yang sudah menghasilkan dua album rekaman, Get the Bug (2004) dan Turn It On (2007), itu ”kurang dikenal luas” di negeri sendiri meski album rekamannya sebenarnya asyik didengar.
Bahkan, sejak tahun 1999-2003 pun Gugun sebenarnya sudah mulai ”jungkir balik” dengan gitar blues-nya di bawah nama De Gun. Ini dia lakukan setelah hijrah dari Riau ke Jakarta sejak tahun 1994.
”Studio Wave (dulu di Jalan Haji Nawi) sampai bangkrut gara-gara membiayai promo rekaman De Gun,” tutur Gugun, mengenai awal perjalanan musiknya yang sulit. Dalam 10 lagu dengan De Gun, ia bermain bersama Ardi (bas) dan Agung (drum).
Namun, di kalangan penggemar musik blues di klub-klub di Kemang, Jakarta, serta Seminyak dan Sanur, Bali, nama Gugun sudah cukup dikenal, terutama di kalangan ekspatriat yang mengunjungi tempat-tempat tersebut.
”Sering kami diundang untuk meramaikan pesta ulang tahun ekspatriat,” tutur Gugun.
Akhir November lalu pun, Gugun membuat terperangah pengunjung JakJazz 2008 ketika ia dan teman-temannya mengisi pentas luar festival tersebut bersama pemain keyboard senior, Abadi Soesman. Kepiawaiannya bermain blues membuat penonton saat itu tiga kali meminta tambahan lagu (encore).
Permainan gitar memang sudah menjadi kegemarannya sejak kecil. Bahkan, ketika ia masih duduk di kelas IV Sekolah Dasar Gadjah Mada, Duri, Gugun sudah keluar sebagai juara II dalam Festival Gitar Se-Provinsi Riau.
”Keluarga kami memang suka musik,” kata anak keenam dari enam bersaudara keluarga Ahmad Atam, pegawai perusahaan minyak Caltex di Riau ini.
Meski ayahnya lebih mengarahkan Gugun sebagai vokalis (menjadi juara festival lagu Melayu se-Kabupaten Bengkalis tahun 1986), ternyata dia lebih memilih bermain gitar.
Sejak duduk di bangku SMP, penggemar berat Iwan Fals, Ian Antono (gitaris band God Bless), dan almarhum penyanyi Gombloh ini, memang sudah memegang lead guitar di band sekolahnya.
Sempat lulus Akademi Bahasa Asing di Cikini, Jakarta, tahun 1997, Gugun mengaku, ”Perhatian utama saya memang bermain musik, bukan sekolah.”
Memang, sudah belasan lagu ia ciptakan dalam dua album rekaman Gugun and The Bluesbug maupun De Gun. Anda bisa menyimak permainannya lewat YouTube.
”Saya yakin, permainan dia akan mengejutkan publik musik blues di Skegness,” ujar Jon Armstrong lagi.
Tak hanya setia menemani Gugun bermusik, Jon ternyata juga mengagumi si ”Jimi Hendrix” dari Riau ini.

