Fakta Musik di Indonesia

Dulu di era 80-an Indonesia sempat diharu biru oleh lagu-lagu cengeng yang benar-benar membuat beberapa kalangan kritis untuk menghentikan lajunya perkembangan lagu2 dengan tema semacam itu.
Dan sekarang fenomena unik terjadi di Indonesia lagi, yakni tentang pemborbardiran grup band baru dengan lagu yang sederhana namun justru menjadi idola dan booming. Kita ambil contoh Kangen band, orang bilang lagunya kacangan, bahkan ada grup rap yang sengaja menciptakan lirik lagu untuk menghujat mereka.
Namun dibalik itu semua lagu2 dari Kangen band laris manis di pasaran. Bahkan penjualan kaset mereka mencapai omzet yang luar biasa.
Bahkan ini ada kisah lucu benar2 terjadi saat konser grup musik cadas EDANE di Sleman2007 lalu. Saat itu MC meminta pada penonton untuk maju ke panggung.
Ada 3 penonton dengan pakaian rocker habis, saat ditanya dan disuruh menyanyikan lagu kesukaannya, eh… dengan fasihnya mereka nyanyi “ Pacarku…”(lagunya Kangen Band). Mungkin bisa saja kalau kalangan rock tidaklah terwakili secara detail oleh 3 rocker yang naik kepanggung malam itu. Tapi setidaknya secara random lagunya Kangen band sangat dikenal oleh penonton yang hadir di malam itu.
Mau cengeng atau tidak, nyatanya begitulah yang terjadi di dunia musik Indonesia. Era setelah Ada Band, Ungu, Peterpan, banyak kita jumpai boys band - boys band yang kita pun tidak hafal untuk menyebutkan satu per satu namanya. Mulai dari Radja [EMI], ST12 [Trinity], Anima [SonyBMG], Matta [EMI], Bre [Warner], Vagetoz [SonyBMG], Satria Band [DNB], Kojo [Warner], dan lain sebagainya.
Ciri khasnya sama, mereka menjual lagu dengan lirik dan nada yang simpel, seperti Ketahuan - nya Matta Band, Jujur - Radja, selain Pacarku milik Kangen Band. Diluar boys band, kita juga mengenal T2 yang dikenal lewat lagunya OK! Faktanya, lagu-lagu yang dianggap “kacangan” ini lebih mudah ‘masuk’ ke masyarakat Indonesia. Mulai dari anak-anak sampai orang tua bisa menyanyikan potongan lagunya. Bahkan di sejumlah radio lokal, lagu-lagu tersebut menjadi top request dan masuk ke peringkat tangga lagu.
Mau kacangan, mau katro’, mau tidak elite, mau bagaimana lagi orang banyak yang suka….Ya begitulah pendengar kita.

1 comment:

Susanti Basir said...

Setuju sekali dengan comment-nya.
Memang realita musik di Indonesia seperti itu, padahal kalau dilihat ke belakang, sepertinya ada kecenderungan turunnya selera pasar mungkin?. Jadi yang lebih laku & digemari ya lagu-lagu seperti yang tersebut sebelumnya.
Padahal kalau kita dengar dengan seksama sebenarnya lebih bagus lagu-lagu lama (itu menurut saya lho..). Tapi kembali lagi selera masing-masing individu. Kayanya nggak bakalan abis kalo ngomongin selera masing-masing individu. Kita cuma bisa berharap musik di indonesia semakin maju & bisa go internasional atau paling tidak bangsa lain bisa menikmati musik Indonesia, tidak hanya bangsa tertentu (serumpun). OK, maju terus musik Indonesia.